Loading...

Minggu, Juli 25, 2021

Wah.. Rumah Gadang di Sumatera Barat Ternyata Rumah Anti Gempa Loh

Rumah Gadang Sumatera Barat

Tahukah kamu apa nama rumah adat Sumatera Barat? Yups.. Rumah Gadang. Arsitektur Rumah adat ini memiliki bangunan yang sangat khas yakni atap yang runcing seperti tanduk kerbau. Rumah ini juga sering disebut oleh masyarakat minang dengan nama Rumah Bagonjong atau ada juga yang menyebutnya Rumah Baanjuang. Ternyata Rumah Gadang Di Sumatera Barat memiliki filosofi yang unik dan tahan gempa loh.

Rumah dengan model seperti ini banyak dijumpai di Sumatera Barat. Namun, tidak semua daerah di Minangkabau (darek) boleh didirikan rumah ini, hanya kawasan yang memiliki status sebagai nagari saja yang bisa mendirikan Rumah Gadang ini. Begitu juga kawasan yang disebut rantau, karena dulunya rumah adat ini tidak didirikan oleh para perantau Minangkabau, melainkan penduduk asli.

Baca Juga : Ingin Berwisata ke Tempat Bersejarah? Ini 5 Rekomendasinya

Fungsi Rumah Gadang

Rumah Gadang merupakan tempat tinggal bersama dan memiliki ketentuan tersendiri. Jumlah kamar rumah ini tergantung jumlah anak perempuan di dalam keluarga tersebut. Anak perempuan yang sudah menikah mendapatkan masing-masing satu kamar, sedangkan yang gadis mendapatkan satu kamar untuk tidur bersama-sama. Seluruh bagian dalam Rumah Gadang merupakan bangunan lepas kecuali kamar tidur.

Rumah Gadang biasanya didirikan di atas sebidang tanah miliki keluarga induk secara turun temurun dan hanya diwarisi untuk kaum perempuan turunan keluarga saja. Rumah Gadang terdapat ruang anjung pada sisi kanan dan kirinya yang berfungsi sebagai tempat pengantin bersanding atau penobatan kepala adat, maka dari itu Rumah Gadang disebut juga rumah baanjuang.

Arsitektur Rumah Gadang

Filosofi dibalik Kemegahan Arsitektur Rumah Gadang Minangkabau • Wonderful Minangkabau
Source: Wonderfulminangkabau.com

Rumah adat minang ini memiliki keunikan arsitektur dengan atap yang melengkung dan runcing seperti tandung kerbau atau disebut juga gonjong. Dahulunya atapnya terbuat dari ijuk yang dapat bertahan hingga puluhan tahun, namun saat ini sudah banyak yang menggunakan material lain seperti seng sebagai atap dari rumah bagonjong ini.

Rumah Baanjuang berbentuk persegi panjang yang terbagi menjadi dua bagian, yakni bagian depan biasanya terdapat ornamen dan ukiran akar, bunga, dan daun serta bidang persegi empat dan genjang. Bagian luar belakang dilapisi belahan-belahan bambu.

Pada umumnya terdapat satu tangga di bagian depan rumah, sementara dapur dibangun terpisah di bagian belakang rumah dengan dempet ke dinding.

Atap Rumah Gadang yang melengkung dan lancip atau disebut juga gonjong menjadi salah satu simbol masyarakat Minangkabau. Hampir seluruh kantor pemerintahan di Sumatera Barat dibangun menggunakan atap gonjong ini, meskipun terbuat dari semen dan batu. Bahkan, di luar daerah Sumatera Barat, sering ditemui bangunan yang menggunakan atap gonjong ini, seperti rumah makan padang di berbagai daerah.

Pembuatan Rumah Gadang

Tiang utama Rumah Gadang disebut tonggak tuo, berasal dari batang pohon juha yang sudah tua dan lurus dengan diameter 40-60 cm karena terkenal kuat dan keras. Kemudian direndam di kolam selama bertahun tahun, sehingga batang pohon ini semakin kuat dan tidak mudah dimakan rayap, bahkan perendaman inilah yang menjadi kunci Rumah Gadang bisa berdiri hingga ratusan tahun.

Ukiran

Berkas:Ukiran dinding rumah gadang.jpg - Wikipedia bahasa Indonesia,  ensiklopedia bebas

Rumah Gadang juga memiliki ukiran yang rinci di setiap sisinya. Dindingnya terbuat dari papan yang dipasang secara vertikal diberi ukiran. Motif ukiran tergantung susunan dan letak dindingnya. Pada dasarnya motif ukiran bentuk garis melingkar atau persegi dan motifnya semperti tumbuhan merambat, akar yang berdaun, berbunga, dan berbuah.

Biasanya, pola akar berbentuk lingkaran, berjajar, berjalin, dan juga saling menyambung. Cabang atau ranting akar berkeluk keluar, ke dalam, ke atas, dan ke bawah. Motif daun, bunga, atau buah diukir tersendiri secara berjajar.

Bangunan Anti Gempa

Karena letaknya di pegunungan Bukit Barisan, Sejak dulu wilayah Minangkabau rawan gempa, sehingga arsitektur Rumah Gadang dibuat agar tahan gempa. Seluruh tiang tidak ditanamkan ke dalam tanah, melainkan bertumpu di atas batu datar yang kuat dan lebar. Bahkan, setiap pertemuan tiang dan kaso besar tidak memakai paku, tetapi memakai pasak yang juga terbuat dari kayu.

Ketika terjadi gempa, Rumah Gadang akan bergeser menyesuaikan gerak di atas batu datar tersebut. Begitupun setiap sambungan yang dipasang dengan pasak kayu dapat bergerak menyesuaikan, sehingga Rumah Gadang yang dibangun dengan benar akan tahan terhadap gempa. Demikianlah informasi mengnai rumah gadang di Sumatera Barat. Mungkin sebagian dari Anda baru mengetahui informasi ini.